Menggumpal hasrat memilin rindu dititik sepi.
Memuai gelisah terbungkus asa yang terbengkalai.
Dituntun kebencian pada gelapnya bibir memaki.
Beradu dengan derai tangis, derap langkah ini sunyi.
Bergetar tirai - tirai hati yang kehilangan mimpi suci.
Menunggu meledak ketika luapan emosi mulai terisi.
Percuma sampan terapung jika tak kuat menahan beban.
Hingga kini, tak lagi melangkah kita dulu yang pernah berjalan.
Waktu menggesek kisi - kisi yang pernah tebal menjadi tipis.
Cinta terkikis oleh kesombongan melalui omongan menghiris.
Bagaimana perih tak sadarkan kita yang tengah asyik menulis.
sedangkan murai burai ditengah nyanyiannya yang harmonis.
Berdua, kita pecah, tanpa ada sisa dari asa yang tersisa.
Kembali menelan pahitnya ludah yang sudah hampir mengering.
Seluruhnya luruh tanpa ada satupun sesuatu yang menyentuh.
Inilah perhentian dua insan pada terminal yang tidak tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar