Merindang cuilan lara saat lenyapnya sisa waktu terakhir
Kemurnian air pada lapak ketulusan telah dijejaki dengki.
Remuk satu kaki penopang raga hidup lumpuh tak berjalan.
Tongkat tiada arti sebab tak dapat menapak layaknya semula.
Sejenak terpejam arahan menuju lamunan tajam ditanah becek.
Lahan yang sangat gembur sebelum dibasahi tangisan sang hujan.
Gugur rimbunan pohon yang kerap bernyanyi se-irama dengan angin
Entah kapan terjadinya saat peralihan dari kebecekan hingga melumpur.
Ketidaksanggupan selalu menunggu untuk meneriaki lautan menghitam.
Gerakan arus itu tak terlihat oleh penglihatan yang memiliki keterbatasan.
Hanya mendengar percikan air yang terlempar ke udara siap kembali jatuh.
Tak lagi utuh kalimat yang terparaf jika telah disapu oleh gelombang pasang.
Tak layak mata ini basah hanya karena seluruh kisah yang telah berlalu.
Biar tersimpan dan menjelma seperti bara yang memerah didalam dada.
Memang rombeng pakaian yang melekat tutupi tubuh dibawah matahari ini.
Namun, ingatlah bahwa pergantian musim pasti akan datang dan menjelang.
Sudah!
Aku kalah diperaduan yang membuat perasaan ini lelah.
Cukup!
Aku sudah tak sanggup menghirup udara yang telah tercemar.
Tak lagi ingin hanya terduduk.
Lebih baik berdiri walau goyah
Lama teraduk membuat larut
Akhirnya menyatu tanpa wujud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar