Kamis, 09 Desember 2010

Sebelum Tertidur

Sesaat sebelum terpejam aku ingin singkat bercerita tentang sebuah kisah tajam yang selama ini tergenggam. Berlabuh dari seberang pulau tempatku berikrar. Ditepiannya aku dilayang angin, dan dilautannya aku terbenas ombak. Biduk adalah tubuhku, sepasang tangan dan kaki adalah kayuhnya.

Mengapungku diatas riak air bergemuruh. Terterikku dibawah bulatan tanpa cahaya. Terfikir kematian yang merona didepan, kian lemas untuk bergerak tanpa arah.

Ruang hampa memerangkap. menghalang pandang seribu langkah kedepan. Terkadang oleng terhempas keputus asaan.

Muak! muak mendekap lebih erat untuk sekedar menjilati emosi. Letih raga berayun terancam lumpuh pada harap. Sia semua!

Terus.... terus... dan terus.... Tiada henti meringis sendiri. Patah kayuh ditengah keempatnya, hingga tak lagi sedikitpun fikiran memacu.

Biarkan, lepaskan kontrol biduk. Biar mengarah sendiri. Memejamlah aku... Untaian kata, besar nan suci mulai terangkai ditepi bibir dan lubuk hati, "kini ikhlas ku memejam untuk bertemu dengan mimpi yang kan berwujud di alam nyata".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar