Kamis, 09 Desember 2010

Kembali Menari

Kala dini, terbaring sembari merenungi relung hati yang penuh tumpukan arti.
Tersadar, lama sudah terasa jemari tak menari mengutip syair dari dalam diri.
Kini, lembut ia menyalin rangkaian bait tersembunyi yang berserak tak perduli.
Memunguti, perlahan dibawah sadar yang berlawanan dengan apa yang dicari.

Mengawali hari tanpa mengenal lagi makna warna asmara dalam suka dan duka.
Sepasang penopang tubuh dimusim panas selalu bergerak menapaki jalanan buta.
Berusaha mencari penafsiran atas benturan pemikiran diatas luka dan didepan muka.
Hingga berharap lugas bahasa santun menyiratkan suara-suara serak dari dalam dada.

Akhirnya penat yang selalu menyelubungi asa dari penantian yang tak pernah berujung.
Namun, indah sempat terkecap meski tak semanis senandung khayalan yang membumbung.
Cukuplah semua perjalanan fatamorgana yang dimulai kemarin, dan terasa hingga sekarang.
Lenyap seluruhnya tertumpuk dibawah kertas-kertas usang berlobang pada tempat yang terbuang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar